Di sebuah gang yang kalau hujan berubah jadi kolam pemancingan dadakan, hiduplah seorang lelaki bernama Rojali. Status ekonominya? Miskin. Status semangat kerjanya? Lebih miskin lagi.
Rojali punya pekerjaan tetap. Bukan karyawan, bukan pedagang, apalagi pengusaha. Ia adalah penonton setia drama Korea. Dari pagi sampai malam, dari episode pertama sampai tamat, dari kisah cinta beda kasta sampai balas dendam keluarga konglomerat—semuanya dilahap seperti kerupuk gratisan.
Ingatannya pada alur cerita film sangat luar biasa. Karena saking luar biasanya, sampai ia lupa dengan tanggal jatuh tempo cicilan hp yang saat ini sedang ia pakai.
Setiap hari rutinitasnya rapi. Bangun siang, seduh kopi, tak lupa sebungkus rokok kretek, lalu membuka ponsel dengan WiFi gratis milik toko sebelah, dan.... Ibadah suci pun dimulai : maraton drama.
Favoritnya tentu tema klasik: anak miskin yang ternyata pewaris tunggal perusahaan raksasa. Atau pemuda tertindas yang tiba-tiba tahu kalau ayahnya dulu pemilik saham mayoritas yang hilang ingatan. Rojali menontonnya dengan mata berbinar, seolah-olah sutradara sedang menyisipkan petunjuk rahasia tentang hidupnya.
“Kayaknya gue juga ketuker pas bayi,” gumamnya optimis tiap malam.
Menurut logika Rojali, kemiskinannya hanya masalah plot twist yang belum muncul. Ia yakin suatu hari akan ada mobil mewah berhenti di depan rumahnya. Seorang pria berjas turun, membuka map, lalu berkata, “Tuan Rojali, Anda pewaris sah perusahaan milik almarhum ayah Anda.”
Padahal ayahnya jelas-jelas tukang tambal ban.
Tapi Rojali tak peduli. Dalam dunia fantasinya, tambal ban itu cuma penyamaran. Mirip tokoh di drama yang pura-pura miskin demi menguji cinta sejati.
Masalahnya, hidup tak punya tim penulis skenario.
Ketika istrinya menyuruhnya cari kerja, Rojali menjawab penuh filosofi, “Sabar, Bu. Orang sukses itu menunggu momentum.” Ia lupa bahwa momentum tak datang ke rumah orang yang bahkan malas keluar pagar.
Setiap malam, setelah menonton adegan tokoh utama balas dendam dengan jas mahal dan mobil sport, Rojali berdiri di depan cermin retak. Ia menyisir rambut yang tidak rapi, lalu berlatih dialog.
“Aku kembali… untuk mengambil semua yang menjadi hakku!”
Yang ia ambil esok paginya tetap cuma air galon isi ulang.
Ia bahkan mulai meniru gaya jalan aktor favoritnya: lambat, penuh wibawa, seolah-olah lantai tanah gangnya adalah karpet merah. Anak-anak kecil menertawakannya. Ia mengira itu sorakan fans.
Rojali tidak malas menurut versinya sendiri. Ia hanya sedang “mempersiapkan mental menjadi orang kaya.” Katanya, orang kaya harus punya aura. Jadi ia melatih aura tiap hari. Sayangnya, aura tidak bisa dibayar pakai listrik yang nunggak.
Suatu malam listrik benar-benar diputus.
Drama berhenti di episode 15, tepat saat rahasia besar hampir terungkap. Rojali panik lebih hebat daripada tokoh utama yang dikhianati tunangannya.
Dalam gelap, tanpa backsound menyayat hati, ia baru sadar: hidupnya tak punya sponsor, tak ada penulis yang siap memberi warisan mendadak, dan tak ada balas dendam megah pada nasib.
Yang ada cuma kenyataan: perut lapar dan masa depan yang tak bisa di-skip.
Esok paginya, untuk pertama kalinya, Rojali keluar rumah bukan untuk cari Wi-Fi gratis, tapi cari kerja. Bukan karena tersadar sepenuhnya, tapi karena ia ingin membiayai paket data sendiri.
Begitulah. Kadang seseorang berhenti jadi tokoh figuran dalam hidupnya sendiri bukan karena mendapat warisan, tapi karena kuota habis.
Dan Rojali akhirnya paham: jadi kaya dadakan itu hanya ada di layar. Di dunia nyata, yang dadakan biasanya cuma tagihan.

0 Komentar